Berhijrah bersama Al-Qur’an
Diambil dari tabligh akbar Ust. Bacthiar Nashir di Islamic Center Masjid Universitas Ahmad Dahlan, 22 September 2017
Hijrah adalah titah dari Allah SWT,
lihatlah para Nabi-nabi terdahulu, mereka adalah orang-orang terpilih karena
segala ujian yang ditimpakan kepada mereka, sungguh mereka sudah sangat siap.
Walau harus masuk ke dalam api, walau harus dicaci-maki mereka tidak pernah
mundur menyampaikan risalah-Nya karena mereka tahu ini adalah sebuah perintah
yang wajib untuk dikerjakan. Rasulullah pada awalnya mengira bahwa Yatsrib itu
adalah Syam bukan Madinah karena memang layaknya berhijrah dari satu tempat ke
tempat lain itu yang lebih tentram dan sejahtera dan kebetulan pada saat itu
Syam lah kota yang tepat untuk dituju. Namun kenyataannya menjadi berbeda
ketika Rasulullah menyadari bahwa Yatsrib ternyata bukan Syam tapi Madinah,
sedangkan Yatsrib/Madinah di kala itu telah didominasi oleh orang-orang Yahudi
yang mereka telah menetap disana dan membuat hukum masyarakat yang berlaku
ketika itu. Realita ini semakin menjadi rumit tatkala Rasulullah harus datang ke
tempat yang sudah ‘mapan’ dengan aktivitasnya karena memang bangsa Arab dulu
hanya menempati wilayah-wilayah yang tidak begitu strategis dibandingkan wilayah
yang dihuni oleh Yahudi. Namun hijrah tidak membahas tentang ‘enak’ atau ‘tidak
enak’, ‘tentram’ atau ‘tidak tentram’, hijrah adalah perintah yang harus
dilaksanakan. Fenomena ini hampir seperti yang terjadi di Indonesia dimana umat
Islam harus memperjuangkan agamanya, membela kitab-Nya yang sekarang tertindas
dimanapun dimuka bumi ini. Hijrah kita bersama Al-Quran ada 3 poin yaitu,
Aqiidatan, ‘Amalan, dan Da’awiyyan.
Yang pertama secara aqidah, Rasulullah memulai hijrah bukan
berasaskan karena rasa takut namun ini adalah perintah seperti yang dikatakan
oleh Nabi Ibrahim “Inni dzaahibun ilaa rabbii sayahdiin” (Sesunguhnya
aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku).
Ini menunjukkan bahwa hijrah adalah bagian yang tak terpisahkan bagi seorang
mukmin yang harus terus diperbarui dan diperjuangkan untuk kemudian menjadi
meningkat dan berkembang. Dalam berhijrah hanya ada satu prinsip pokok,
“Mulailah, melangkahlah, setelah itu biarkan Allah yang sempurnakan !”. Seperti
yang telah Allah firmankan dalam Surah An-Nisa ayat 100 : “Wa man yuhaajir
fii sabilillah yajid fil ardhi muraaghaman katsiiran wa sa’ah” (Barangsiapa
yang berhijrah di jalan Allah SWT, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini
tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak). Terkait dengan Hijrah Aqidatan
Allah telah firmankan dalam surat An-Nisa ayat 89 : “Wadduu lau takfuruuna
kamaa kafaruu fa takuunuuna sawaa..” (Mereka ingin supaya kamu menjadi
kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan
mereka) ). Inilah upaya orang-orang kafir supaya aqidah kita menjadi runtuh,
“downgrade” sehingga pada akhirnya kita menjadi selevel dengan orang-orang
kafir dan ini adalah upaya yang terus berlanjut hingga hari ini. Kemudian
lanjut dalam ayat yang sama, “Fa laa tattakhidzuu minhum auliyaaa hattaa
yuhaajiruu fii sabilillah..” (Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka
penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah). Artinya
adalah bukan hanya kita yang tidak boleh “downgrade” aqidah kita, namun
pemimpin kita, sahabat kita pun juga tidak boleh runtuh aqidah mereka, oleh
karena itu Allah menghimbau kita agar memilih sahabat dan pemimpin yang tepat
dari segi apanya ? Dari segi ideologi dan aqidahnya.
Yang kedua adalah secara ‘amalan, Allah Swt berfirman dalam Surah
An-Nisa ayat 100 : “Wa man yakhruj min baitihi muhaajiran ilallahi tsumma
yudrikhul mautu fakod waka’a ajruhu ‘alallah. Wa kaana allahu ghafuran rahiiman”
(Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan
Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju),
maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang). Kita pasti mengingat kisah seorang pembunuh
yang telah membunuh sebanyak 99 orang kemudian ketika dia ingin bertaubat dia
mendatangi seorang yang bijak’sini’ di kampungnya, lalu si bijak’sini’ itu
berkata, “Sungguh dosamu tidak akan terampuni dan bagimu hanyalah neraka” dan
pada akhirnya si pembunuh itu menggenapi korbannya menjadi 100 dengan membunuh
si bijak’sini’. Akhirnya si pembunuh datang kepada seorang yang bijaksana lalu
ia mengatakan kepada si pembunuh itu “ Sebaiknya kamu berhijrah, tinggalkan
kampungmu, tinggalkan lingkunganmu, karena perbuatanmu tidak akan pernah bisa
sempurna selama kamu masih tinggal di lingkungan yang buruk lingkungannya dan
buruk manusianya”. Singkat cerita si pemuda ini berjalan meninggalkan
kampungnya menuju kampung yang lebih baik, namun malangny si pemuda ini
meninggal di tengah perjalanannya yang kemudian datanglah dua malaikat
kepadanya yang “berdebat” mengenai masuknya si pembunuh tersebut ke dalam
neraka atau surga. Akhirnya dibuatlah solusi dengan mengukur jarak kematiannya
dari kampung maksiatnya menuju tempat kematiannya & tempat kematiannya
menuju kampung hijrahnya, dan ternyata jarak menunjukkan bahwa ia lebih dekat kepada
kampung hijrahnya maka masuklah ia ke dalam surga. Inilah sesungguhnya esensi
dari hijrah secara amaliyan, kita dituntut untuk siap meninggalkan kemaksiatan
menuju kepada ketaatan yang itu hanya bisa dilakukan apabila kita terus
melangkah dan jangan pernah menghiraukan perkataan manusia, karena apa ? karena
tugas kita hanyalah mengawali dan tugas Allah Swt adalah menyempurnakan
perjalanan kita. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam sebuah hadist qudsi
yang diriwayatkan oleh Abu Huraihah : “Man taqarraba ilayya syibran
taqarabbtu ilaihi dzira’an, wa man taqarraba ilayya dzira’an taqarabbtu ilaihi
ba’an, wa man taqarraba ilayya maasyiyan taqarrabtu ilaihi harwalah”
(Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya
sehasta, dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat
kepadanya sedepa, dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku dengan berjalan, Aku
akan mendekat kepadanya dengan bergegas). Lihatlah betapa Allah begitu
antusiasnya menyambut hamba-Nya yang mau mendekat kepada-Nya, maka tidak akan
rugi orang yang mau bergerak untuk berhijrah, seluruh dosanya lenyap seketika
saat ia menghampiri-Nya dan inilah keajaiban hijrah.
Kemudian yang ketiga, ada tingkatan hijrah yang lebih tinggi yaitu
secara Da’awiyyan. Analoginya begini, anda ingin jadi pegawai manusia atau
pegawainya Allah ? Bila kita melihat kehidupan para sahabat di zaman dahulu
kita akan menyadari bahwa “pegawai-pegawai Allah” itu tidak ada yang dilanda
takut akan kemiskinan ataupun kesengsaraan. Kita ambil satu contoh yaitu Thariq
Bin Ziyad, bayangkan dia hanyalah seorang budak yang diperintah oleh Amr bin
Ash dari Mesir untuk berjalan melalui maroko melintasi selat Gibraltar, masuk
ke Almeira sampai ke Granada Spanyol lalu apakah ketika dia sampai disana
lantas dia menjadi TKI seperti orang-orang Indonesia ? Thariq tidak mungkin
berfikiran seperti itu, yang ada dibenaknya adalah “Dimana bumi dipijak
disitulah kalimat tauhid disebarkan, dimana bumi dipijak disitulah islam
diajarkan, dimana di bumi dipijak disitulah bumi Allah, dan dimana bumi dipijak
disitulah kematian siap untuk dipersembahkan kematian di jalan Allah !”
Hijrah dengan segala tantangannya akan selalu ditolong Allah,
dilindungi Allah, dijaga Allah, dan dimudahkan Allah, lihatlah percakapan
antara Abu Bakar dan Rasulullah ketika mereka berdua berada dalam situasi yang
mencengangkan, situasi dimana orang-orang musyrik Quraisy mengepung Rasulullah
dan Abu Bakar di depan mulut gua. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, andai
saja salah satu dari mereka kaum Quraisy melihat ke bawah kedua kakinya,
niscaya kita akan ketahuan.”, lalu Rasulullah menjawab, “Abu Bakar masih
yakinkah engkau bahwa diantara kita berdua yang ketiga adalah Allah Swt”.
Beruntungnya orang-orang yang berhijrah, mereka tidak pernah merasa sendiri dan
inilah yang harus kita tanamkan dalam pikiran kita masing-masing bahwa
dimanapun kita berhijrah disitulah Allah menyertai dan membersamai kita.


Komentar
Posting Komentar