Refleksi Kemerdekaan
“73 Tahun sudah kita merdeka !!”
begitulah kira-kira gaungan semangat yang menggelora tepat pada hari ini. Dalam
pandangan saya, kata “Istqilal” lah yang paling tepat untuk mengekspresikan
kemerdekaan kita pada hari ini. Istiqlal merupakan bahasa arab yang jika ditranselitkan
ke Indonesia menjadi “Kemerdekaan”. Mungkin, inilah salah satu alasan mengapa
salah satu masjid terbesar di Jakarta menggunakan kata ini untuk disematkan
sebagai nama masjid, yakni Masjid Istiqlal. Masjid dalam pesantren yang menjadi
salah satu titik pusat yang menjiwai atau sebagai titik pusat peradaban menjadi
semangat nasionalisme kita hingga hari ini. “Atas berkat rahmat Allah yang Maha
Kuasa...” menjadikan spirit utama dalam membangun serta mempertahankan kemerdekaan
yang telah lama diidam-idamkan oleh bangsa Indonesia. Semangat ini tidak boleh
padam dalam jiwa kita, optimisme tetap harus ditanamkan bahwa hanya ada kata
“merdeka” dalam benak kita. Walaupun belum sepenuhnya kita merdeka, ada banyak
persoalan bangsa yang perlu kita “merdekakan”, permasalahan rakyat yang perlu
kita “perjuangkan”, dan mungkin aset-aset bangsa yang wajib kita jaga dan
gaungkan kepada semesta. Namun, setidaknya optimisme dan keyakinanlah yang akan
menjadi modal awal terwujudnya kemerdekaan Indonesia.
Berbicara tentang kemerdekaan
hakikatnya berbicara tentang sebuah ekspetasi di masa depan dengan perencanaan
yang matang. Kemerdekaan tak selalu berbicara soal kesejahteraan, kemakmuran,
ataupun keadaan yang sedemikian rupa. Keluhan semacam itu saya kira sudah lama
terdengar di telinga kita, terkadang itulah ironinya bangsa ini pesimisme yang
menggelayuti sikap optismisme yang tinggi. Memang itu benar adanya, itu fakta
yang tak dapat dipungkiri, berulangkali kabinet pun berganti selalu saja muncul
masalah kerakyatan, dan itulah memang tugas-tugas beliau, menuntaskan apa yang
ada di depan mata, bila tak ada fenomena maka apa gunanya kursi jabatan di
istana. Maka daripada kita terus terjebak pada persoalan ini, alangkah lebih
baiknya bila kita ikut berkontribusi dan berpartisipasi minimal menjadi bagian
dari kaum optimalis. Yakinlah, bahwa setiap apa yang kita ikhtiarkan dengan
niat yang baik dan tulus dalam rangka mewujudkan kemerdekaan yang
diimpi-impikan akan berbuah dengan hasil yang tak sia-sia. Karena setiap
kebaikan itu tidak ada yang sia-sia dan hanya ada dua kemungkinan; dibalas
seketika itu pula atau disimpan untuk dilipatgandakan.
Maka, sikap yang paling bijak untuk
merefleksikan 73 tahun kemerdekaan ini ialah ikhlas untuk bersatu. Saya rasa
pemahaman kita sudah final akan arti persatuan, bersatu demi utuhnya umat dan
bangsa tanpa diracuni dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Namun, seringkali
kita lupa akan itu, mulut berkata akan bersatu tapi hati tak kunjung menyatu,
itulah terkadang yang disebut sebagai sikap “merusak keikhlasan” orang lain.
Oleh karena itu, sepatutnya kita menyadari bahwa kita lahir di rahim yang sama,
menghirup udara yang sama, menatap langit yang sama, bahkan mungkin akan
dikebumikan di tanah air yang sama. Maka, selama aqidah tak tergadaikan,
moralitas tak tercoreng, identitas tak tercemooh tidak ada alasan lagi bagi
kita selain ikhlas untuk bersatu. Karena buah dari keikhlasan bukan hanya
persatuan namun kerelaan, pengorbanan, serta kebahagiaan disaat negeri, umat,
dan bangsa kita saling memahami satu dengan yang lain. Inilah hakikat
kemerdekaan, anugerah sang Ilahi dalam menyatukan hati.

Komentar
Posting Komentar