Yang Utama Itu Taqwa

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ كَذَالِك سَخَّرهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ    
 وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ


“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(Al-Hajj: 37)

            Ayat diatas mungkin sudah sering kita dengar khususnya saat memasuki hari raya Idul Adha, namun bagi saya ayat ini begitu spesial ketika kita memaknainya secara perlahan. Saat imam shalat Idul Adha membacakan ayat diatas saya semakin ingin bertafakkur, ternyata ada yang lebih penting dari sekedar berqurban sapi ataupun kambing yang rata-rata harganya berkisaran antara 2 hingga 35 juta bahkan. Bahkan, ada saja orang yang menyebut Idul Adha ini sebagai “hari pembantaian” dimana mereka menyebut hari itu sebagai hari yang tragis dengan penyembelihan jutaan bahkan milyaran sapi dan kambing/domba diseluruh dunia. Tentu kalau kita bertanya dengan orang India, mungkin mereka akan setuju dengan pendapat diatas. Karena sapi di India memang binatang yang sakral dan haram hukumnya untuk disembelih. Namun dalam pandangan Islam tentu berbeda, hakikat penyembelihan ini justru bukan kita lampiaskan kepada kambing ataupun sapi tapi sebenarnya kita ini sedang menyembelih sifat-sifat buruk yang ada pada diri kita. Bahkan, tajamnya pisau, banyaknya orang yang menjegal, kuatnya tali yang mengikat tidak menjamin bahwa sifat-sifat “kebinatangan” yang ada pada diri kita akan dengan mudahnya hilang begitu saja.
            Maka diskusi kecil saya dengan si anak kecil tadi mengingatkan memori saya untuk kembali ke ayat diatas tadi tentang pentingnya sebuah ketaqwaan. Allah seolah-olah ingin memaparkan, “Aku gak butuh daging yang kau sembelih, bahkan darah yang kau kucurkan, yang Aku butuhkan cuma Taqwamu”. Akhirnya muncul sebuah titik sambungan dikusutnya benang fikiran saya, “Owh.. ternyata serangkaian penyembelihan ini dalam rangka membentuk ketaqwaan kita kepada Allah ya...” jadi keridhoan Allah lah yang paling kita butuhkan dalam berqurban, bukan daging yang kita dapatkan dari penyembelihan. Inilah yang mendasari jawaban saya pada si anak tersebut, seolah saya ingin berkata menambahi jawaban si anak tersebut, “In syaa Allah, sapi-sapi yang disembelih itu masuk ke perut orang-orang bertaqwa nak :D”. Semoga di hari Idul Adha kita senantiasa dijadikan menjadi manusia yang tinggi taqwanya dan lenyap hawa nafsunya.
            Begitulah kiranya pelajaran penting diatas, tapi terkadang saya juga merasa sedih karena awamnya masyarakat Indonesia akan pemahaman ini apalagi yang tinggal di area pedesaan. Seperti yang terjadi di desa saya, jadi ketika proses distribusi saya tidak ikut teman-teman berkeliling dengan mobil membagikan daging-daging sembelihan itu namun sesekali saya ingin memperhatikan bapak ketua panitia mengatur siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan daging-daging itu. Di kala itu, ada seorang ibu yang menggendong anaknya menghampiri si bapak tersebut sambil berkata, “Pak, saya mau minta jatah saya..” lalu jawab heran si bapak, “Lho, jatah apa buk ?” dan ibu segera membalas, “Jatah saya pak, saya kan tadi juga ikut  rewang (bantu-bantu), walaupun tidak sampai selesai karena anak saya tadi rewel..” kemudian bapak tadi menjawab, “Oh.. kalo begitu gak sampai selesai to berarti, yaudah mas itu kasih bagian kakinya aja..” lalu balas ibu dengan tidak puas, “Pak, saya gak bisa masaknya ini, suami saya juga lagi gak dirumah..” lalu si bapak memberikan opsi lain, “Yaudah mas kasih balungan (tulang sapi) itu saja.. “ lalu jawab si ibu dengan raut yang kecewa juga, “Duh, kok cuman balungan thok to pak.” Dan bapaknya mengakhiri dengan mengatakan, “Udah bu ambil itu saja, lain kali gak usah ikut rewang lagi ya !!” sedih saya memperhatikan percakapan kedua orang ini. Alangkah indahnya bila dalam Idul Adha ini kita saling bekerja sama dalam “menyembelih” sifat-sifat tercela yang ada pada diri kita, kita bekerja sama dalam rangka menggapai ridho-Nya guna menjadi manusia yang bertaqwa. Maka momen seperti hari ini sangatlah berharga, jika hanya karena daging saja keikhlasan kita menjadi rusak, sungguh lebih baik tak perlu ada tangis sapi/kambing lagi yang kita lihat sebelum kita sembelih, tak usah ada lagi darahnya yang mengucuri tubuh penyembelih, tak butuh keringat bapak-bapak lagi untuk menenangkan temperamen kambing/sapi, tak perlu ada Idul Adha karena pengorbanan hanya sia-sia.
            Idul Adha merupakan momen dimana cinta dan pengorbanan bersatu membentuk sebuah ketaqwaan, maka inilah waktu yang paling tepat untuk melenyapkan semua keburukan dan hargailah kambing/sapi yang telah kita sembelih dengan perubahan, peningkatan, serta perwujudan kita menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang senantiasa menguatkan taqwanya kepada Allah SWT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Niat Baik di Bulan yang Baik

Generasi Z dan Tantangan Porn Generation

Bang Rak: Antara Bangkok mosque, Charoen Krung, dan Haroon Mosque